One word that never gets old. Sebuah kata yang menjadi inspirasi kisah-kisah kehidupan, inspirasi lagu, film dan banyak pertunjukan. Sebuah kata yang ada di awal kisah hidup manusia dan biiznillah sepertinya akan terus ada sampai akhir jaman kelak.
Jika mendengar kata Cinta, apa yang ada dibenak Anda? Cinta secara general, cinta kepada Sang Pencipta, cinta dua insan, cinta orang tua terhadap anak dan keturunannya, cinta anak terhadap kedua orang tua, cinta keluarga, cinta sesama manusia, cinta sesama makhluk hidup, dan berbagai macam cinta lainnya. Biasanya yang paling menarik dibahas adalah cinta antar dua insan, laki-laki dan perempuan dengan segala bumbunya.
Pemahaman saya pribadi tentang cinta berkembang seiring pemahaman Saya akan agama saya yakni Islam, simply karena Islam merupakan jalan hidup saya dan saya berusaha semaksimal mungkin untuk mengaplikasikan segala hal dalam hidup saya berdasarkan Islam, termasuk tentang cinta ini.
Cinta tak melulu soal romantisme, jika yang kita bicarakan adalah cinta antara dua manusia. Ada yang bilang it's about chemistry, tak melulu harus cantik secara fisik tapi lebih kepada kecocokan antar keduanya.
Dalam pemahaman saya, cinta bukan hanya tentang perasaan yang terkadang membuat kita buta, tapi juga tentang logika. Ada yang bilang cinta tak pakai logika, kalau menurut saya harus pakai logika. Logika yang seperti apa?
Contohnya dalam menentukan kriteria pasangan hidup. Dulu sebelum menikah, saya punya kriteria untuk seorang lelaki bisa menjadi suami saya, yang dibagi kedalam dua kategori yakni kategori ruhiyah dan jasadiyah :D
Kategori ruhiyah jelas agamanya harus bagus, lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid sehingga tak perlu disuruh untuk shalat wajib berjamaah di masjid ketika tak ada uzur syar'i, terbukti berbakti kepada kedua orang tuanya dan peduli akan keluarganya, mau mencari ilmu agama sehingga ketika saya bertanya dia akan tahu jawabannya atau jika tak tahu maka dia akan tahu harus mencari jawaban kemana.
Kategori jasadiyah adalah yang terkait fisik dan ini sangat subjektif tergantung kepada “selera” setiap orang. Untuk saya waktu itu diantaranya adalah kulitnya tak boleh lebih putih dari saya, giginya bagus dan rapi, tingginya minimal sama dengan saya dan tidak merokok. Sementara kategori lain adalah tidak malas dalam mencari nafkah, tidak bekerja di bank atau lembaga yang berhubungan dengan riba dan sejenisnya.
Buat saya semua kategori ini adalah bagian logika, meski kalau yang namanya jodoh memang kita sudah tertulis di Lauh Mahfudz tapi sebagai seorang hamba yang diberikan akal dan pikiran tak ada salahnya kita berusaha untuk mencoba mendapatkan yang terbaik tentunya dengan memantaskan diri, agar diri ini bisa lebih baik setiap harinya.
Tapi saya punya kenalan yang punya pemahaman yang menurutnya ketika kita tidak cinta dengan seseorang, maka tak akan mungkin “bersatu” meski sudah terikat dalam pernikahan. Maka pernikahan akan sebatas melaksanakan hak dan kewajiban standar, atau bahkan mungkin minimal, sebagai suami-istri.
Jika mendengar kata Cinta, apa yang ada dibenak Anda? Cinta secara general, cinta kepada Sang Pencipta, cinta dua insan, cinta orang tua terhadap anak dan keturunannya, cinta anak terhadap kedua orang tua, cinta keluarga, cinta sesama manusia, cinta sesama makhluk hidup, dan berbagai macam cinta lainnya. Biasanya yang paling menarik dibahas adalah cinta antar dua insan, laki-laki dan perempuan dengan segala bumbunya.
Pemahaman saya pribadi tentang cinta berkembang seiring pemahaman Saya akan agama saya yakni Islam, simply karena Islam merupakan jalan hidup saya dan saya berusaha semaksimal mungkin untuk mengaplikasikan segala hal dalam hidup saya berdasarkan Islam, termasuk tentang cinta ini.
Cinta tak melulu soal romantisme, jika yang kita bicarakan adalah cinta antara dua manusia. Ada yang bilang it's about chemistry, tak melulu harus cantik secara fisik tapi lebih kepada kecocokan antar keduanya.
Dalam pemahaman saya, cinta bukan hanya tentang perasaan yang terkadang membuat kita buta, tapi juga tentang logika. Ada yang bilang cinta tak pakai logika, kalau menurut saya harus pakai logika. Logika yang seperti apa?
Contohnya dalam menentukan kriteria pasangan hidup. Dulu sebelum menikah, saya punya kriteria untuk seorang lelaki bisa menjadi suami saya, yang dibagi kedalam dua kategori yakni kategori ruhiyah dan jasadiyah :D
Kategori ruhiyah jelas agamanya harus bagus, lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid sehingga tak perlu disuruh untuk shalat wajib berjamaah di masjid ketika tak ada uzur syar'i, terbukti berbakti kepada kedua orang tuanya dan peduli akan keluarganya, mau mencari ilmu agama sehingga ketika saya bertanya dia akan tahu jawabannya atau jika tak tahu maka dia akan tahu harus mencari jawaban kemana.
Kategori jasadiyah adalah yang terkait fisik dan ini sangat subjektif tergantung kepada “selera” setiap orang. Untuk saya waktu itu diantaranya adalah kulitnya tak boleh lebih putih dari saya, giginya bagus dan rapi, tingginya minimal sama dengan saya dan tidak merokok. Sementara kategori lain adalah tidak malas dalam mencari nafkah, tidak bekerja di bank atau lembaga yang berhubungan dengan riba dan sejenisnya.
Buat saya semua kategori ini adalah bagian logika, meski kalau yang namanya jodoh memang kita sudah tertulis di Lauh Mahfudz tapi sebagai seorang hamba yang diberikan akal dan pikiran tak ada salahnya kita berusaha untuk mencoba mendapatkan yang terbaik tentunya dengan memantaskan diri, agar diri ini bisa lebih baik setiap harinya.
Tapi saya punya kenalan yang punya pemahaman yang menurutnya ketika kita tidak cinta dengan seseorang, maka tak akan mungkin “bersatu” meski sudah terikat dalam pernikahan. Maka pernikahan akan sebatas melaksanakan hak dan kewajiban standar, atau bahkan mungkin minimal, sebagai suami-istri.
Kalau menurut saya, ketika sudah terikat akad nikah maka kita harus menyingkirkan ego yang ada dan tunduk kepada hukum Allah, termasuk melatih rasa yang ada agar bisa “bersatu”. Tak sedikit contoh pernikahan yang tak dilalui pacaran tapi mashaAllah bisa lebih kuat dari pasangan yang telat didahului oleh bertahun-tahun pacaran karena landasannya adalah dalam rangka mencari ridha Allah sehingga Allah menurunkan berkah-Nya.
Intinya sih, inshaAllah semua bisa di usahakan baik itu nikah karena cinta atau karena perjodohan, tergantung masing-masing orang yang menjalaninya.
Ahhh... pagi-pagi udah ngomongin cinta, jadi laper #laahhh 😅
Well it’s just a thought, boleh setuju boleh tidak yang penting kita tetep rukun dan damai 😍.
Allahu a’lam....
Comments