Akhir-akhir ini ide muamalah tanpa riba semakin menggeliat alhamdulillah, hal tersebut merupakan kabar gembira karena selama ini riba yang dibungkus dalam kata bunga sudah menjadi hal yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari, padahal Allah melarang keras hal tersebut.
Maka bermunculanlah wacana pengusaha tanpa riba, properti tanpa riba yang dimana para penggiatnya pun melakukan kampanye terutama melalui media sosial untuk ikut menyadarkan umat Islam akan bahayanya riba, mashaAllah.
Jadi flashback ke beberapa tahun kebelakang, awal-awal nikah dulu. Lazimnya setelah nikah orang mulai mencari-cari tempat tinggal permanen untuk mereka tinggali, entah itu ngontrak sebelum bisa beli rumah, ataupun mulai mencicil. Secara pribadi Saya tak terlalu suka lingkungan komplek perumahan, senangnya tinggal di lingkungan perkampungan seperti yang selama ini Saya tinggali. Kebanyakan yang menyediakan fasilitas cicilan rumah adalah untuk komplek perumahan. Tapi setelah sekian lama mulai juga sih melirik komplek meski hati belum mantap untuk ambil cicilan.
Teteh Saya yang mashaAllah sangat baik hati kemudian mengeluarkan ide untuk Saya menyicil rumah di Bogor Cimanggu City (dulu masih bernama Bogor Cimanggu Villa) dengan memberikan sejumlah uang kepada Kami untuk DP, jadi nanti Saya tinggal bayar cicilannya saja. Saat itu terus-terang hati masih belum sreg dengan konsep ciclan KPR yang berbunga itu, tapi Saya tetap menyambut ide teteh Saya ini. Jadilah Kami men-DP satu rumah mungil disana.
Belum juga mulai cicilan pertama, Saya tetap belum sreg kalau harus nyicil KPR yang dimana katanya kalau telat pembayaran akan kena bunga atau denda atau apalah, dan lama cicilan juga lebih dari 10 tahun. Sampai akhirnya Kami memutuskan untuk membatalkan menyicil rumah tersebut, otomatis DP dipotong sedikit, tapi alhamdulillah setelah itu hati terasa lega.
Keinginan memiliki rumah tentu saja tetap ada, tapi Kami tidak ngoyo. Beberapa kali jadi kontraktor alias pindah-pindah kontrakan di Jakarta sampai akhirnya kembali tinggal di Bogor bersama umi. Fast forward beberapa tahun kemudian alhamdulillah Allah pun memberi jalan untuk Kami memiliki rumah di komplek tanpa melalui cicilan bertahun-tahun, meski yang sampai sekarang Kami sebut sebagai rumah adalah tetap rumah di kampung bareng umi hihihi...
Saya merasa niat yang kuat untuk menghidari riba itu sangat penting karena, biiznillah, dari situ Saya merasa Allah memberi jalan untuk bisa menghindari riba, min haitsu laa yahtasib atau dari arah yang tidak diduga-duga.... mashaAllah. Karena Allah itu maha memampukan, tinggal Kitanya saja yang memantaskan diri untuk itu.
Kemuliaan seseorang tidak dinilai dari apakah dia sudah punya rumah atau belum, tapi yang paling bertakwa disisi Allah-lah yang paling mulia. Salah satu indikatornya adalah dengan melaksanakan perintahYya dan menjauhi laranganNya, riba adalah termasuk hal yang dilarang oleh Allah...
Semoga kita bisa istqamah dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan juga menjauhi laranganNya... aamiin...
Wallahu a'lam bissawab.
Comments