Lanjutan cerita Aa.
Meneruskan tulisan pengalaman kemarin di waktu Fajr (Subuh), hari ini seperti kemarin saya beranjak kembali ke masjid HMYC utk melaksanakan shalat Fajr. Pukul 6 kurang sedikit bergegas menapaki jalan yang menurun sembari hati-hati dengan salju yg sudah mengeras karena menjadi licin.
Sekarang saya sudah tahu bagaimana membuka pintu masjidnya sehingga langsung saja menuju bagian utama masjid, setelah membuka perlengkapan "perang" lalu shalat-shalat sunnah dilanjutkan tilawah yang masuk surah Taubah, diingatkan kembali tentang masjid Diror (http://en.m.wikipedia.org/wiki/Demolition_of_Masjid_al-Dirar) lalu balasan bagi orang-orang yg awal dari Muhajirin dan Ansar dengan surga lalu balasan orang-orang munafiq dengan adzab yg pedih, dst... Tiba-tiba suara adzan berkumandang dari dalam masjid, ya dari dalam masjid. Tapi di dalam hanya saya sendiri saat itu, mulailah saya mendekat ke arah sumber suara yaitu beberapa speaker tapi tetap tidak menjumpai seorangpun. Lalu saya menuju ruangan penyimpanan sepatu, tidak ada sepatu lain selain milik saya di sana. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa muadzinnya adalah semacam peralatan elektronik yang bekerja berdasarkan waktu shalat :)
Saya kembali duduk dan menunggu adzan selesai, ketika itulah tiba-tiba seseorang memasuki masjid yang saya duga adalah imam masjid tersebut, beliau memberi salam dengan memberi isyarat menaruh tangan kanannya di dadamya lalu saya membalas dengan serupa.
Selepas adzan beliau membaca doa selesai adzan secara keras lalu saya beranjak untuk melaksanakan shalat qabliyah Fajr demikian juga dengan sang Imam.
Selepas itu mulailah urutan-urutan yang umum dilakukan di masjid-masjid di Turki (paling tidak yang pernah saya singgahi) sebelum dilakukan shalat fardu, yaitu:
1. Imam akan maju dan duduk di tempat imam menghadap makmum yang biasanya sudah rapih duduk di barisan pertama dan seterusnya. Cuma saat itu makmumnya baru saya saja.
2. Imam lalu akan membacakan beberapa ayat Quran, bisa bagian sebuah surat atau satu surat penuh secara keras, baik itu dengan membaca ataupun tidak (hafalan). Lalu makmum mendengarkan. Saat itu imaam membacakan surat Yaasin secara penuh :) dan saya mendengarkan saja. Di tengah bacaan datang 2 anak muda mungkin masih seumuran anak SMP atau SMA lalu mereka melaksanankan shalat sunnah lalu duduk mendengarkan bacaan imam. Lepas Yasin maka imam meneruskan dengan membaca 3 surat terakhir (Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas).
3. Lalu ditutup dengan doa sampai membaca "Subhanaka robbika robbil 'izzati 'amma yaa sifuun..." Lalu salah satu anak muda tadi (yg ternyata memiliki nama Muhammad Yusuf) melantunkan iqamah.
Shalat Fajr akhirnya dimulai, rakaat pertama sang imam membaca surat Al 'Alaq dan rakaat kedua membaca surat An Nasr.
Yang mungkin agak janggal bagi kita yg bermadzhab Syafii atau lama tinggal di Saudi yg bermadzhab Hambali adalah ketika mengucapkan Ta'min (aamiin) setelah imam selesai membaca Al Fatihah. Di sini yang notabene bermadzhab Hanafi berpendapat bahwa bacaan aamiin itu sirr (tdk dikerasn), lihat tinjauan Fiqihnya di http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/membaca-al-fatihah-dalam-shalat-2.html. Bagi kita? Ya boleh saja "agak" dkeraskan, mereka jg ga akan marah kok :) tp saya menghormati madzhab di sini maka saya akan melakukan sirr jg walau kadang suka terlupa dan dikeraskan :D.
Selepas shalat maka biasanya ada seseorang yg akan "membimbing" makmum. Dalam hal ini saudara M. Yusuf mulai membimbing utk melakukan dzikir lepas shalat dimulai dr Subhanallah, dst. Jangan kaget juga kalau tiba2 dilempari tasbih oleh imam yg maksudnya utk digunakan berdzikir. Terserah Anda kalau mau digunakan atau tidak.
Selepas dzikir maka imam akan memimpin doa dan ditutup dengan bacaan Al Fatihah.
Selepas itu saya berkenalan dengan Pak Imam yang ternyata memiliki nama Nadzif, dia menanyakan asal saya dengan bahasa Arab yg fasih (menjawab tanda tanya saya kemarin), saya bilang saya tinggal di Arab Saudi, lalu dia terlihat berbinar-binar mendengarnya sambil menyebutkan "Makah Al Mukaramah Mubarakah" dia tanya gimana Syaikh Sudais dan seterusnya.
Lalu saya berkenalan dengan dua anak muda yg membuat saya terkagum-kagum karena bahasa Arabnya cas cis cus dgn Bahasa Arab yg formal. Namanya Ibrahim (yg pinggir kanan) dan Muhammad Yusuf (yg tengah di foto). Saya bertanya apakah bahasa Arab diajarkan di sekolah, mereka menjawab iya - maa syaa Allah, harapan2 kebangkitan Islam in syaa Allah. Mereka datang ke Uludag utk rihlah (rekreasi) dr Istanbul. Yang mengagumkan adalah bagaimana mereka tetap menjaga Shalat Fajr di masjid.
Akhirnya, alhamdulillah, pertanyaan-pertanyaan saya terjawab sudah hari ini dengan secercah harapan adanya anak-anak muda yang taat beribadah dengan kemampuan bahasa Arab yg jauuuuuuh di atas saya :)
)
Comments