Skip to main content

[Trip Turki 2014] Muadzin Yang (tidak) "Hilang" - Bagian ke-2 (selesai)

Lanjutan cerita Aa.

Meneruskan tulisan pengalaman kemarin di waktu Fajr (Subuh), hari ini seperti kemarin saya beranjak kembali ke masjid HMYC utk melaksanakan shalat Fajr. Pukul 6 kurang sedikit bergegas menapaki jalan yang menurun sembari hati-hati dengan salju yg sudah mengeras karena menjadi licin.

Sekarang saya sudah tahu bagaimana membuka pintu masjidnya sehingga langsung saja menuju bagian utama masjid, setelah membuka perlengkapan "perang" lalu shalat-shalat sunnah dilanjutkan tilawah yang masuk surah Taubah, diingatkan kembali tentang masjid Diror (http://en.m.wikipedia.org/wiki/Demolition_of_Masjid_al-Dirar) lalu balasan bagi orang-orang yg awal dari Muhajirin dan Ansar dengan surga lalu balasan orang-orang munafiq dengan adzab yg pedih, dst... Tiba-tiba suara adzan berkumandang dari dalam masjid, ya dari dalam masjid. Tapi di dalam hanya saya sendiri saat itu, mulailah saya mendekat ke arah sumber suara yaitu beberapa speaker tapi tetap tidak menjumpai seorangpun. Lalu saya menuju ruangan penyimpanan sepatu, tidak ada sepatu lain selain milik saya di sana. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa muadzinnya adalah semacam peralatan elektronik yang bekerja berdasarkan waktu shalat :)

Saya kembali duduk dan menunggu adzan selesai, ketika itulah tiba-tiba seseorang memasuki masjid yang saya duga adalah imam masjid tersebut, beliau memberi salam dengan memberi isyarat menaruh tangan kanannya di dadamya lalu saya membalas dengan serupa.

Selepas adzan beliau membaca doa selesai adzan secara keras lalu saya beranjak untuk melaksanakan shalat qabliyah Fajr demikian juga dengan sang Imam.

Selepas itu mulailah urutan-urutan yang umum dilakukan di masjid-masjid di Turki (paling tidak yang pernah saya singgahi) sebelum dilakukan shalat fardu, yaitu:

1. Imam akan maju dan duduk di tempat imam menghadap makmum yang biasanya sudah rapih duduk di barisan pertama dan seterusnya. Cuma saat itu makmumnya baru saya saja.

2. Imam lalu akan membacakan beberapa ayat Quran, bisa bagian sebuah surat atau satu surat penuh secara keras, baik itu dengan membaca ataupun tidak (hafalan). Lalu makmum mendengarkan. Saat itu imaam membacakan surat Yaasin secara penuh :) dan saya mendengarkan saja. Di tengah bacaan datang 2 anak muda mungkin masih seumuran anak SMP atau SMA lalu mereka melaksanankan shalat sunnah lalu duduk mendengarkan bacaan imam. Lepas Yasin maka imam meneruskan dengan membaca 3 surat terakhir (Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas).

3. Lalu ditutup dengan doa sampai membaca "Subhanaka robbika robbil 'izzati 'amma yaa sifuun..." Lalu salah satu anak muda tadi (yg ternyata memiliki nama Muhammad Yusuf) melantunkan iqamah.

Shalat Fajr akhirnya dimulai, rakaat pertama sang imam membaca surat Al 'Alaq dan rakaat kedua membaca surat An Nasr.

Yang mungkin agak janggal bagi kita yg bermadzhab Syafii atau lama tinggal di Saudi yg bermadzhab Hambali adalah ketika mengucapkan Ta'min (aamiin) setelah imam selesai membaca Al Fatihah. Di sini yang notabene bermadzhab Hanafi berpendapat bahwa bacaan aamiin itu sirr (tdk dikerasn), lihat tinjauan Fiqihnya di http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/membaca-al-fatihah-dalam-shalat-2.html. Bagi kita? Ya boleh saja "agak" dkeraskan, mereka jg ga akan marah kok :) tp saya menghormati madzhab di sini maka saya akan melakukan sirr jg walau kadang suka terlupa dan dikeraskan :D.

Selepas shalat maka biasanya ada seseorang yg akan "membimbing" makmum. Dalam hal ini saudara M. Yusuf mulai membimbing utk melakukan dzikir lepas shalat dimulai dr Subhanallah, dst. Jangan kaget juga kalau tiba2 dilempari tasbih oleh imam yg maksudnya utk  digunakan berdzikir. Terserah Anda kalau mau digunakan atau tidak.

Selepas dzikir maka imam akan memimpin doa dan ditutup dengan bacaan Al Fatihah.

Selepas itu saya berkenalan dengan Pak Imam yang ternyata memiliki nama Nadzif, dia menanyakan asal saya dengan bahasa Arab yg fasih (menjawab tanda tanya saya kemarin), saya bilang saya tinggal di Arab Saudi, lalu dia terlihat berbinar-binar mendengarnya sambil menyebutkan "Makah Al Mukaramah Mubarakah" dia tanya gimana Syaikh Sudais dan seterusnya.

Lalu saya berkenalan dengan dua anak muda yg membuat saya terkagum-kagum karena bahasa Arabnya cas cis cus dgn Bahasa Arab yg formal. Namanya Ibrahim (yg pinggir kanan) dan Muhammad Yusuf (yg tengah di foto). Saya bertanya apakah bahasa Arab diajarkan di sekolah, mereka menjawab iya - maa syaa Allah, harapan2 kebangkitan Islam in syaa Allah. Mereka datang ke Uludag utk rihlah (rekreasi) dr Istanbul. Yang mengagumkan adalah bagaimana mereka tetap menjaga Shalat Fajr di masjid.

Akhirnya, alhamdulillah, pertanyaan-pertanyaan saya terjawab sudah hari ini dengan secercah harapan adanya anak-anak muda yang taat beribadah dengan kemampuan bahasa Arab yg jauuuuuuh di atas saya :)

)

Comments

Popular posts from this blog

Pengeluaran Akhir Ramadhan…

Waktu Aa masi kerja di jakarta, paling seneng pas bulan puasa soalnya tengah bulan turun THR… hehehe… Kalo skarang karena base-nya international dan tak ada peraturan tentang THR, maka yaaa ga dapet THR :D Tapi ada tak ada THR, semangat sedekah harus jalan terusss… Apalagi di momen ramadhan yang berkah ini, insyaAllah Allah akan melipatgandakan berkahnya atas kebaikan yang kita lakukan. Saya udah bikin daftar pengeluaran THR… cara pandang terhadap pengeluaran sangat terasa signifikan terhadap perasaan. Kalo kita cuma liat daftar itu hanya sebagai pengeluaran biaya rasanya gimana gitu, beda dengan bila kita liat daftar tersebut sebagai pemasukan amal melalui sedekah dan berbagi. Ditambah lagi dengan kemuliaan bulan ramadhan menjadikan kita berharap bahwa Allah senantiasa meridhoi perbuatan kita dan dengan demikian menurunkan rahmat-Nya kepada kita… aamiin… Pengeluaran yang senantiasa kita lakukan pada hakikatnya adalah pemasukan bagi diri kita sendiri, itu kalo pengeluaran tersebut d...

Hasil Mudik 2025

Sekarang sudah bulan Agustus 2025, orang-orang masih pada summer break, Saya & Aa juga baru beres mudik ke Bogor kemarin, dan sekarang sedang menikmati panasnya Dhahran 😁. Kegiatan-kegiatan juga sedang libur jadi saya literally jadi pengangguran aja, yang ga banyak acara hihihii... Kemarin pulang dari mudik, kepala berasa pusing. Curiga darah tinggi maka cek tensi, dan benar saja tensi saya 146. Flasback ke beberapa hari sebelum mudik memang makannya ajaib alias banyak makan, plus ga olah raga dan kurang tidur juga. 2 hari sebelum terbang, kita nginep di hotel airport, karena berbarengan 4 orang mau terbang di dua hari berbeda dan tujuan berbeda, jadi daripada bolak-balik anter Bogor-Soetta jadilah kita nginep aja. Check in hari selasa, besok rabu saya melepas Aa balik ke Saudi (ya flight kami beda sehari 😆 dan siangnya anter ponakan yang mau kuliah di Surabaya di terminal 1. Besoknya giliran saya anter teteh saya yang mau balik ke US flight pagi, dan terakhir saya dilepas teteh ...

Cerita Dhahran?

Awal Oktober 2022 lalu saya dan Aa pindah rumah ke Dhahran, apakah blog ini harus ganti nama jadi ceritadhahran? hahahha…. Ga usah lah ya secara Khobar – Dhahran juga deket. Padahal di postingan terakhir juga saya postingnya dari Rakah yang bagian rumah saya notabene udah masuk area Dammam, jadi mari kita biarkan saja blog ini bernama ceritakhobar  Tak terasa juga Oktober mendatang udah mau setahun kami menempati rumah di Dhahran ini. Flashback ke tahun lalu yang merupakan salah satu tahun yang cukup hectic, tapi masih kalah hectic sih kalo dibandingin sama proses saya dan Aa balik lagi ke Saudi di musim pandemi hahahaha…. Setelah dari tahun 2010 sampai 2022 kami tinggal di apartemen sampe merasakan 6 apartemen, di 2 lokasi berbeda, alhamdulillah tahun kemarin kita dapet kesempatan tinggal di rumah “normal” dan ada garasi pula, secara di Bogor aja kita ga punya garasi hahaha…. Yang ada halaman depan dan belakangnya juga mashaAllah. Teman-teman yang lain tak sedikit yang berkebun sa...