Semenjak tinggal di saudi, alhamdulillah dapat banyak teman baru yang “senasib”, dalam artian berpredikat sebagai ibu rumah tangga pendamping suami dan tak bekerja di luar rumah. Kita banyak bertukar pikiran terutama dengan status “baru” kita disini. Yang tadinya bekerja setiap hari ngantor, ketika relokasi ke saudi jadi hanya diam di rumah mengurus anak (kalo udah ada) dan suami. Atau yang seperti saya, tak bekerja kantoran tapi hampir setiap hari selalu keluar rumah untuk urusan ini itu dengan motor kesayangan, dan ketika tinggal disini harus 100 persen tergantung pada suami untuk mengantar kita kesana-kemari.
Saya sendiri, alhamdulillah, dari awal tinggal disini tak terlalu merasa shock… Mungkin karena memang sudah siap mental untuk menghadapi situasi yang berbeda 180 derajat. Menurut saya disinilah letak survival kita sebagai manusia, harus beradaptasi atau merana sendiri hihihi… Kangen kampung halaman, orang tua, saudara, keponakan dan teman-teman pasti ada, tiap hari malah, tapi hal tersebut tak menjadikan saya lupa untuk menikmati apa yang saya temui disini. Malah disini rasanya jarang sekali saya merasa bosan ga jelas seperti waktu tinggal di bogor, karena selalu saja ada pekerjaan yang harus dikerjakan.
Peran suami dalam hal ini juga sangat penting untuk membuat istri yang setiap hari di ruma saja, tak bebas kesana-kemari sendirian. Makanya Aa mah hampir tiap saat selalu bertanya “kemana kitah?” heuheuheu… dan jika saya sebut satu lokasi, maka akan langsung diantar kesana selagi memungkinkan . Tapi kalo sekarang justru saya nya yang males kemana-mana, kecuali wiken, bawaannya cuma pengen di ruma saja. Kalo dulu hampir tiap malam kesana-kemari, maklum pengenalan medan sekitar tempat tinggal hihihiii….
Satu hal yang membuat saya kerasan tinggal di saudi adalah, kalo mau umroh gampang dan murah, alhamdulillah… tak perlu biaya berjuta-juta untuk sekali umroh. Sebenarnya hal ini yang dari awal membuat saya udah betah duluan tinggal disini hehehe… Selain itu, sekarang saya dan Aa (kebanyakan sih Aa) sering mengunjungi para kucing liar di pinggir-pinggi jalan dekat ruma dan kantor Aa, kadang-kadang di pantai juga… hal tersebut bisa menambah point “fun” dalam keseharian saya hehehe…
Dimanapun kita tinggal, toh masih di bumi Allah… kerasan atau tidaknya benar-benar tergantung pada pribadi masing-masing, apakah ingin senantiasa mengingat-ingat keadaan yang tak bisa kita rasakan seperti di kampung halaman atau ingin merasa nyaman dengan apa yang ada dihadapan kita. Adaptasi buat saya adalah suatu keharusan untuk merasakan kenyamanan hidup. Jauh dari keluarga besar tak terlalu menjadi masalah, karena kami selalu merasa dekat dihati satu sama lain. Teknologi juga memudahkan kami berkomunikasi, tinggal bagaimana kita menyikapi semuanya dengan baik, insyaAllah…
Saya sendiri, alhamdulillah, dari awal tinggal disini tak terlalu merasa shock… Mungkin karena memang sudah siap mental untuk menghadapi situasi yang berbeda 180 derajat. Menurut saya disinilah letak survival kita sebagai manusia, harus beradaptasi atau merana sendiri hihihi… Kangen kampung halaman, orang tua, saudara, keponakan dan teman-teman pasti ada, tiap hari malah, tapi hal tersebut tak menjadikan saya lupa untuk menikmati apa yang saya temui disini. Malah disini rasanya jarang sekali saya merasa bosan ga jelas seperti waktu tinggal di bogor, karena selalu saja ada pekerjaan yang harus dikerjakan.
Peran suami dalam hal ini juga sangat penting untuk membuat istri yang setiap hari di ruma saja, tak bebas kesana-kemari sendirian. Makanya Aa mah hampir tiap saat selalu bertanya “kemana kitah?” heuheuheu… dan jika saya sebut satu lokasi, maka akan langsung diantar kesana selagi memungkinkan . Tapi kalo sekarang justru saya nya yang males kemana-mana, kecuali wiken, bawaannya cuma pengen di ruma saja. Kalo dulu hampir tiap malam kesana-kemari, maklum pengenalan medan sekitar tempat tinggal hihihiii….
Satu hal yang membuat saya kerasan tinggal di saudi adalah, kalo mau umroh gampang dan murah, alhamdulillah… tak perlu biaya berjuta-juta untuk sekali umroh. Sebenarnya hal ini yang dari awal membuat saya udah betah duluan tinggal disini hehehe… Selain itu, sekarang saya dan Aa (kebanyakan sih Aa) sering mengunjungi para kucing liar di pinggir-pinggi jalan dekat ruma dan kantor Aa, kadang-kadang di pantai juga… hal tersebut bisa menambah point “fun” dalam keseharian saya hehehe…
Dimanapun kita tinggal, toh masih di bumi Allah… kerasan atau tidaknya benar-benar tergantung pada pribadi masing-masing, apakah ingin senantiasa mengingat-ingat keadaan yang tak bisa kita rasakan seperti di kampung halaman atau ingin merasa nyaman dengan apa yang ada dihadapan kita. Adaptasi buat saya adalah suatu keharusan untuk merasakan kenyamanan hidup. Jauh dari keluarga besar tak terlalu menjadi masalah, karena kami selalu merasa dekat dihati satu sama lain. Teknologi juga memudahkan kami berkomunikasi, tinggal bagaimana kita menyikapi semuanya dengan baik, insyaAllah…
Comments