Skip to main content

Rumput Tetangga

Rumput tetangga lebih hijau…. istilah tersebut sepertinya udah lazim sekali yah, yang mencirikan salah satu sifat manusia yang tak pernah puas dengan apa yang ia miliki. Bukan berarti setiap manusia seperti itu lhooo… Ada saat-saat seseorang merasa kehidupan orang lain lebih enak, lebih senang, lebih bahagia daripada kehidupannya sendiri, tapi boleh jadi disaat yang sama orang yang dia “iri-in” tersebut merasa iri terhadap kehidupannya.

Saya pernah mendengar kisah tentang dua saudara kandung yang sama-sama sudah berumah tangga dan hidup bersebelahan, apa yang dimiliki sang kaka sepertinya harus pula di miliki sang adik dan sebaliknya. Padahal setiap rumah tangga bisa jadi berbeda dalam hal kemampuan ekonomi meskipun masih dalam satu keluarga seperti adik dan kaka. Tapi sepertinya yang namanya manusia akan selalu punya potensi seperti itu, potensi yang sebenarnya bisa dijadikan energi untuk berusaha mencapai target tertentu seperti orang lain, tapi dengan menghilangkan sifat iri dengki akan kesuksesan orang.

Kalau kita lihat tetangga punya mobil baru, biasanya langsung ada keinginan pula atau minimal pertanyaan “kapan yah saya punya mobil seperti dia?”. Pertanyaan itu bisa diubah menjadi energi untuk kita berusaha dengan giat supaya bisa punya mobil. Namun ada baiknya bila kita iri terhadap pencapaian orang dalam hal ruhiyah dan agama. Kalau tau ada kenalan yang tilawahnya sehari bisa sampai 4-5 juz, iri lah kita terhadapnya… Kalau ada yang sudah hafal Qur’an 20 juz, iri lah kita terhadapnya… Kalau teman ada yang dengan mudahnya bersedekah dikala senang, iri lah kita terhadapnya….

Iri yang tanpa diiringi dengki, dan jadikan iri tersebut pacuan untuk kita meningkatkan alaman diri kita di hadapan Allah. Toh hasilnya bukan buat siapa-siapa tapi buat diri sendiri. Sebaliknya, iri terhadap kehidupan dunia tak akan ada habisnya karena akan selalu ada yang lebih dari kita, dan hal tersebut hanya akan membuat kita exhausted, lelah, cape dan hasilnya hanya di dunia saja. Tapi bila pencapaian dunia kita gunakan untuk sebaik-baiknya amalan di akherat maka insyaAllah dunia akherat bisa kita dapat.

Ahhh… tak ada habisnya kalo membicarakan soal manusia dengan segala kompleksifitasnya… manusia dengan segala hal yang ada dipikirannya… pikiran sendiri aja sering padat, gimana kalo bisa mendengar pikiran orang lain kaya di film-film yah hihihi… bukan berarti saya ahli tentang manusia lhoo tapi dengan mengamati dan menulis tentang manusia, sedikit banyak bisa mendapat pencerahan buat diri sendiri karena saya masih berstatus sebagai manusia :D

Comments

Popular posts from this blog

Pengeluaran Akhir Ramadhan…

Waktu Aa masi kerja di jakarta, paling seneng pas bulan puasa soalnya tengah bulan turun THR… hehehe… Kalo skarang karena base-nya international dan tak ada peraturan tentang THR, maka yaaa ga dapet THR :D Tapi ada tak ada THR, semangat sedekah harus jalan terusss… Apalagi di momen ramadhan yang berkah ini, insyaAllah Allah akan melipatgandakan berkahnya atas kebaikan yang kita lakukan. Saya udah bikin daftar pengeluaran THR… cara pandang terhadap pengeluaran sangat terasa signifikan terhadap perasaan. Kalo kita cuma liat daftar itu hanya sebagai pengeluaran biaya rasanya gimana gitu, beda dengan bila kita liat daftar tersebut sebagai pemasukan amal melalui sedekah dan berbagi. Ditambah lagi dengan kemuliaan bulan ramadhan menjadikan kita berharap bahwa Allah senantiasa meridhoi perbuatan kita dan dengan demikian menurunkan rahmat-Nya kepada kita… aamiin… Pengeluaran yang senantiasa kita lakukan pada hakikatnya adalah pemasukan bagi diri kita sendiri, itu kalo pengeluaran tersebut d...

Hasil Mudik 2025

Sekarang sudah bulan Agustus 2025, orang-orang masih pada summer break, Saya & Aa juga baru beres mudik ke Bogor kemarin, dan sekarang sedang menikmati panasnya Dhahran 😁. Kegiatan-kegiatan juga sedang libur jadi saya literally jadi pengangguran aja, yang ga banyak acara hihihii... Kemarin pulang dari mudik, kepala berasa pusing. Curiga darah tinggi maka cek tensi, dan benar saja tensi saya 146. Flasback ke beberapa hari sebelum mudik memang makannya ajaib alias banyak makan, plus ga olah raga dan kurang tidur juga. 2 hari sebelum terbang, kita nginep di hotel airport, karena berbarengan 4 orang mau terbang di dua hari berbeda dan tujuan berbeda, jadi daripada bolak-balik anter Bogor-Soetta jadilah kita nginep aja. Check in hari selasa, besok rabu saya melepas Aa balik ke Saudi (ya flight kami beda sehari 😆 dan siangnya anter ponakan yang mau kuliah di Surabaya di terminal 1. Besoknya giliran saya anter teteh saya yang mau balik ke US flight pagi, dan terakhir saya dilepas teteh ...

Cerita Dhahran?

Awal Oktober 2022 lalu saya dan Aa pindah rumah ke Dhahran, apakah blog ini harus ganti nama jadi ceritadhahran? hahahha…. Ga usah lah ya secara Khobar – Dhahran juga deket. Padahal di postingan terakhir juga saya postingnya dari Rakah yang bagian rumah saya notabene udah masuk area Dammam, jadi mari kita biarkan saja blog ini bernama ceritakhobar  Tak terasa juga Oktober mendatang udah mau setahun kami menempati rumah di Dhahran ini. Flashback ke tahun lalu yang merupakan salah satu tahun yang cukup hectic, tapi masih kalah hectic sih kalo dibandingin sama proses saya dan Aa balik lagi ke Saudi di musim pandemi hahahaha…. Setelah dari tahun 2010 sampai 2022 kami tinggal di apartemen sampe merasakan 6 apartemen, di 2 lokasi berbeda, alhamdulillah tahun kemarin kita dapet kesempatan tinggal di rumah “normal” dan ada garasi pula, secara di Bogor aja kita ga punya garasi hahaha…. Yang ada halaman depan dan belakangnya juga mashaAllah. Teman-teman yang lain tak sedikit yang berkebun sa...