“Ting nong”, bunyi bel rumah terdengar malam itu. Saya yang tengah asyik menyetrika sambil menonton TV agak sedikit heran karena menyangka Aa, membawa kunci rumah. “Ah, mungkin tangannya penuh membawa berbagai macam jinjingan belanjaan titipan saya” pikirku waktu itu. Tapi sejenak ragu juga, jangan-jangan orang lain yang ngebel. Saya bangkit untuk mengambil jilbab and bergegas membuka pintu depan.
Ternyata bukan Aa yang ada di depan pintu, tapi Jafar, Mahmud dan beberapa orang maintenance apartemen yang sedang mengecek ke tiap rumah. Jafar bertanya dalam bahasa arab, saya cuma bilang “Hah?” tanda tak mengerti. Kemudian Mahmud menjelaskan dalam bahasa inggris “Any cooking problem?”, “No, I’m not cooking right now” jawab saya spontan karena merasa saat itu tak tengah memasak. Saya tutup kembali pintu depan. “Ah tapi ga ada salahnya juga yah ngecek ke dapur” pikir saya seraya berjalan menuju dapur yang saat itu pintunya tertutup rapat.
Saya buka pintu dapur daaaann…. “Astagfirullah! Innalillaahi! Subhanallah! Yaa Allah…!!!” saya berseru kaget karena dapur sudah terlihat berasap. Jantung berdegup kencang, pikiran melayang kemana-mana, gak lucu aja terbayang saya masuk berita karena menjadi penyebab kebakaran… haduuuhh… Seketika itu juga otak saya langsung berputar dan berpikir apa yang harus dilakukan. Di rumah sendirian (eh ada 3 kucing juga sih), saya harus cepat bertindak.
Spontan saya matikan kompor listrik yang terlihat memerah dan memindahkan panci yang sudah menghitam gosong. Lampu saya matikan dan jendela dapur saya buka lebar-lebar. Exhaust fan yang sebelumnya memang sudah nyala cukup membantu mengeluarkan asap, tapi tetap saja saya menghirup cukup banyak asap sewaktu masuk ke dapur. Kemudian saya setengah berlari (gak bisa lari karena kaki lagi sakit ) menuju tiga kamar mandi untuk menyalakan exhaust, saya buka jendela di kamar-kamar, dan terakhir saya nyalakan AC dengan kipas pada kecepatan maksimum. Seisi rumah bau gosong. Pintu rumah di apartemen ini memang tebal-tebal, jadi saya yang sedang di depan TV tak mencium bau asap, malah orang-orang diluar gedung yang mencium bau gosong karena asapnya dikeluarkan oleh exhaust fan yang sedang menyala.
Setelah semua terkendali saya menenangkan diri di sofa, badan lemas, jantung masih deg-degan, tak henti-hentinya saya berdzikir. Setelah agak tenang saya coba telepon Aa, duh “Azizil muttasil” katanya yang menandakan kalau HP Aa tak bisa dihubungi. Akhirnya dengan masih agak lemas, saya meneruskan kembali setrikaan yang masih tersisa. Beberapa saat kemudian Aa datang, saya langsung bercerita. Satu hal yang membuat saya tenang adalah kata-kata Aa “Aku titipkan kamu sama Allah” . Jadi biarpun saat itu sedang sendiri di rumah, tapi pada hakikatnya saya tak sendiri, karena Allah Maha menjaga, insyaAllah.
Ini kedua kalinya saya lupa mematikan kompor listrik. Biasanya untuk memasak yang lama seperti merebus daging saya memakai kompor listrik biar gas-nya irit, maklum kalau gas tak di-cover oleh kantor . Tahun lalu saya pernah memasak semur, kemudian saya dan Aa pergi keluar. Ditengah jalan perasaan tak enak karena sepertinya saya belum mematikan kompor. Akhirnya daripada ragu kami kembali ke rumah, dan benar aja kompor masih menyala. Ah… Berarti ini panci ke-2 saya yang gosong.
Semoga peristiwa semalam adalah yang terakhir kalinya saya lupa kalau sedang menyalakan kompor, dan ini juga membuat saya lebih alert sehingga selalu ngecek ke dapur, apa indikator lampu kompor listrik menyala atau tidak. Karena untuk kompor gas bisa langsung terlihat apinya.
Alhamdulillah… Bersyukur masih dilindungi oleh Allah azza wa jalla, dan hal ini juga merupakan pelajaran bagi saya untuk lebih ekstra hati-hati.
Ternyata bukan Aa yang ada di depan pintu, tapi Jafar, Mahmud dan beberapa orang maintenance apartemen yang sedang mengecek ke tiap rumah. Jafar bertanya dalam bahasa arab, saya cuma bilang “Hah?” tanda tak mengerti. Kemudian Mahmud menjelaskan dalam bahasa inggris “Any cooking problem?”, “No, I’m not cooking right now” jawab saya spontan karena merasa saat itu tak tengah memasak. Saya tutup kembali pintu depan. “Ah tapi ga ada salahnya juga yah ngecek ke dapur” pikir saya seraya berjalan menuju dapur yang saat itu pintunya tertutup rapat.
Saya buka pintu dapur daaaann…. “Astagfirullah! Innalillaahi! Subhanallah! Yaa Allah…!!!” saya berseru kaget karena dapur sudah terlihat berasap. Jantung berdegup kencang, pikiran melayang kemana-mana, gak lucu aja terbayang saya masuk berita karena menjadi penyebab kebakaran… haduuuhh… Seketika itu juga otak saya langsung berputar dan berpikir apa yang harus dilakukan. Di rumah sendirian (eh ada 3 kucing juga sih), saya harus cepat bertindak.
Spontan saya matikan kompor listrik yang terlihat memerah dan memindahkan panci yang sudah menghitam gosong. Lampu saya matikan dan jendela dapur saya buka lebar-lebar. Exhaust fan yang sebelumnya memang sudah nyala cukup membantu mengeluarkan asap, tapi tetap saja saya menghirup cukup banyak asap sewaktu masuk ke dapur. Kemudian saya setengah berlari (gak bisa lari karena kaki lagi sakit ) menuju tiga kamar mandi untuk menyalakan exhaust, saya buka jendela di kamar-kamar, dan terakhir saya nyalakan AC dengan kipas pada kecepatan maksimum. Seisi rumah bau gosong. Pintu rumah di apartemen ini memang tebal-tebal, jadi saya yang sedang di depan TV tak mencium bau asap, malah orang-orang diluar gedung yang mencium bau gosong karena asapnya dikeluarkan oleh exhaust fan yang sedang menyala.
Setelah semua terkendali saya menenangkan diri di sofa, badan lemas, jantung masih deg-degan, tak henti-hentinya saya berdzikir. Setelah agak tenang saya coba telepon Aa, duh “Azizil muttasil” katanya yang menandakan kalau HP Aa tak bisa dihubungi. Akhirnya dengan masih agak lemas, saya meneruskan kembali setrikaan yang masih tersisa. Beberapa saat kemudian Aa datang, saya langsung bercerita. Satu hal yang membuat saya tenang adalah kata-kata Aa “Aku titipkan kamu sama Allah” . Jadi biarpun saat itu sedang sendiri di rumah, tapi pada hakikatnya saya tak sendiri, karena Allah Maha menjaga, insyaAllah.
Ini kedua kalinya saya lupa mematikan kompor listrik. Biasanya untuk memasak yang lama seperti merebus daging saya memakai kompor listrik biar gas-nya irit, maklum kalau gas tak di-cover oleh kantor . Tahun lalu saya pernah memasak semur, kemudian saya dan Aa pergi keluar. Ditengah jalan perasaan tak enak karena sepertinya saya belum mematikan kompor. Akhirnya daripada ragu kami kembali ke rumah, dan benar aja kompor masih menyala. Ah… Berarti ini panci ke-2 saya yang gosong.
Semoga peristiwa semalam adalah yang terakhir kalinya saya lupa kalau sedang menyalakan kompor, dan ini juga membuat saya lebih alert sehingga selalu ngecek ke dapur, apa indikator lampu kompor listrik menyala atau tidak. Karena untuk kompor gas bisa langsung terlihat apinya.
Alhamdulillah… Bersyukur masih dilindungi oleh Allah azza wa jalla, dan hal ini juga merupakan pelajaran bagi saya untuk lebih ekstra hati-hati.
Comments