Kemarin pagi sambil nyetrika, secara tak sengaja nonton tayangan House Swap di salah satu stasiun TV. Ide nya adalah dua orang perempuan saling bertukar rumah dan tinggal beberapa saat di rumah tersebut, bersama penghuninya. Mungkin sengaja yang dipilih dua karakter rumah tangga yang benar-benar bertolak belakang satu sama lain.
Di tayangan tersebut ada dua keluarga, yang satu keluarga yang terorganisir secara ketat, sang istri sangat menyukai spread sheet, dimana semua jadwal, tugas, keuangan ada dalam bentuk laporan beserta rinciannya. Suami istri keduanya bisa dikatakan control freak, dimana anak-anaknya harus benar-benar mengikuti "instruksi" mereka secara detil. Sampai tugas sehari-hari seperti nyuci piring dan bebersih harus selalu di sidak oleh sang ayah... Ketiga anaknya semua perempuan, dengan satu anak hasil dari pernikahan pertama sang ayah. Bisa dikatakan kehidupan anak-anak benar-benar dikontrol sampai-sampai setiap hari sang ibu selalu mengecek isi SMS anak-anaknya.
Keluarga yang kedua adalah yang kebalikannya, mereka mengklaim diri sebagai keluarga rastafara (atau rastafari yah?) dimana bisa dikatakan mereka hidup "seenaknya" dalam satu trailer dengan empat orang anak, dengan prinsip hidup "one love" dan "jah will provide". Saya menangkap kata-kata yang sering diucapkan oleh sang suami "jah will provide" dan mengasumsikan "jah" tersebut dengan semacam tuhan yang mereka percayai. Keempat anak mereka tak ikut sekolah umum, sang ibu mengajari mereka di rumah, home schooling, dan anak-anak boleh melakukan kegiatan yang mereka inginkan untuk hari itu. Tiap malam sang suami selalu bermain band reggae bersama teman-temannya, sementara sang istri mengurusi rumah dan anak-anak
Bisa dibayangkan waktu para istri bertukar rumah beserta isi dan anggota keluarganya, perbedaan karakter tersebut menyebabkan keduanya saling mengerenyitkan dahi 

Menurut pengamatan saya (maklum pengamat wkwkwk...) dikedua karakter rumah tangga tersebut ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya "suka" dengan gaya rumah tangga para rastafarian dalam hal kesantaian dalam menghadapi hidup termasuk ketika di rekening mereka hanya ada 3 usd, juga prinsip saling berbagi mereka, dimana keluarga yang berlebih membagi kelebihannya itu kepada keluarga yang sedang kurang dan sebaliknya. Untuk keluarga satu lagi saya suka karena mereka terorganisir, pekerja keras dan menjadi provider yang baik baik keluarganya.
Meski demikian ada hal yang menurut saya menjadi kekurangan kedua keluarga. The rastafarian, mereka terlalu berkoar-koar "jah will provide" dan setelah itu pasrah. Kelihatannya mereka memang bahagia sih dengan cara hidup mereka, tapi alangkah baiknya jika hal tersebut diiringi kerja cerdas. Sedang untuk keluarga satu lagi, pengontrolan yang terlalu ketat terhadap anak-anaknya menyebabkan ada jurang pemisah antara orang tua dan anak, seolah-olah orang tua itu ibarat sipir penjara yang selalu mengecek segala sesuatunya, hal itu bisa menyebabkan shock buat anak-anaknya dikala harus sendirian terjun ke dunia nyata.... jiaaahh so' tau ye pengamatannya hihihi...
Saya selalu membandingkan kehidupan orang-orang yang saya liat di tv dengan cara hidup saya sendiri. Jika kedua rumah tangga tersebut didasarkan pada ajaran Islam, maka insyaAllah keduanya akan ideal. Keseimbangan akherat dan dunia akan membawa kita kedalam kebahagiaan... Ikhtiar yang diiringin dengan do'a dan tawakkal akan membuat hati puas. Kelebihan dengan diiringi kesyukuran akan membuat semuanya terasa lebih nikmat... Kekurangan dengan diiringi kesabaran akan terasa manis, karena apapun keadaannya untuk seorang mukmin adalah baik 

Selalu ada pelajaran yang bisa dipetik dari mengamati kehidupan disekitar kita. Media tv yang membawa berita dan gaya hidup orang di negara lain pun bisa masuk ke rumah kita, apa lagi kalo bukan untuk dipetik pelajarannya? Sehingga tontonan tak sekedar jadi pemuas mata saja, tapi juga membuat otak berpikir dan hati bicara...
But then again, setiap orang punya standar masing-masing untuk kehidupannya. Saya menuliskan pikiran saya disini untuk berbagi... Kalo ada yang tak sependapat, namanya juga manusia... selalu ada perbedaan cara pandang terhadap sesuatu 

Comments