Membaca beberapa kisah lika-liku perjuangan beberapa orang muallaf sungguh membuat saya berpikir. Rata-rata mereka sampai kepada hidayah Allah dengan memeluk Islam melalui pencarian secara sadar dan keinginan memperoleh kebenaran. Allah menuntun mereka melalui proses yang panjang... meski demikian, pilihan tetap kembali ke tangan mereka apakah akan tunduk pada petunjuk yang sudah jelas-jelas terpampang di depan mata, atau membalikkan muka dari itu semua.
Tapi mana mungkin manusia berpaling dari fitrahnya... Ketika seseorang melakukan pencarian akan kebenaran dan Allah sudah memberi hidayah, tak ada yang bisa menghalanginya dari cahaya kebenaran yang terang-benderang tersebut. Fitrah manusia untuk selalu ingin mengetahui kebenaran.
Berbeda dengan kita, saya, yang terlahir dari orang tua muslim. Mungkin sebagian besar kita tak merasakan perjuangan untuk sampai kepada Islam, karena Allah sudah mentakdirkan kita berada dalam keluarga muslim. Tapi itu bukan berarti tugas pencarian kita selesai begitu saja. Butuh waktu sepanjang hayat untuk mencari ilmu dalam melaksanakan kewajiban yang sudah Allah gariskan bagi hamba-Nya. Apakah kita melakukan ritual-ritual itu karena hapal cangkem, dalam artian itu yang orang tua kita ajarkan tanpa tau apa makna dan tata cara yang benar, atau kita kaji kembali pengetahuan kita tentang cara melaksanakan ajaran Islam dengan baik dan benar...
Tugas orang tua untuk memberikan bekal dasar bagi anak-anaknya, sebagai fondasi bagi mereka untuk bisa memfilter yang hak dan yang batil. Ketika beranjak dewasa, anak pun mempunyai kewajiban untuk mencari ilmu agama yang sesuai dengan tuntunan dari kangjeng Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam... Ketika kita berilmu dengan benar, insyaAllah kita tau mana yang sesuai dengan ajaran Islam dan mana yang tidak.
Tak sedikit juga muslim yang terkikis keyakinannya karena tinggal di lingkungan yang tidak kondusif, bergaul dengan kemuruman orang yang pemikirannya tidak sejalan dengan Islam, sehingga lambat-laun dia tersibgah atau terwarnai dengan pemikiran mereka, dan boleh jadi kemudian menganggap orang yang menjalankan agamanya dengan benar sebagai ektrimis atau fundamentalis. Padahal bukan tak mungkin kedua istilah itu tak lain di cetuskan oleh pihak-pihak yang takut jika muslim menjalankan agamanya dengan benar (gitu sih menurut yang saya baca :P)
Biasanya hal itu tak akan lama... akan ada satu titik dimana seseorang yang sudah tau tentang fitrah, kemudian berbelok arah, dan sampai pada satu titik jenuh dengan mempertanyakan kehidupannya, kemudian dengan ijin Allah dia akan kembali ke fitrahnya, yakni berada dalam Islam.... kecuali Allah mentakdirkan lain.
Yang harus kita jaga agar takdir baik berpihak pada kita adalah konsistensi pada kebenaran. Walaupun kita akan tampak lugu dan naif. Allah yang mengontrol seluruh permainan ini karena Dia sendiri yang mengendalikan alam raya ini, termasuk ilmu tentang masa depan. Jadi jangan terlalu khawatir! demikian tulis ust.Anis Mata dalam salah satu kultwit-nya tentang takdir (http://bit.ly/ikpY5q). Untuk tau mana yang benar dan yang salah yakni dengan menuntun ilmu dari sumber-sumber terpercaya.
Takdir, Qadha dan Qadar semua sudah ada petunjuknya dalam Islam. Kembali kepada Islam berarti kembali kepada fitrah manusia, kepada yang seharusnya manusia pakai... Kalo ibarat baju, udah ngepas banget dah tanpa perlu embel-embel sana-sini yang bisa menyebabkan baju itu jadi jelek.
Semoga kita termasuk golongan yang selalu istiqomah dalam kebenaran dan kebaikan, mempercayakan hasil usaha kita kepada Allah, dan selalu mendapat hidayah Allah sepanjang hayat.... aamiin yaa Rabb... 

Comments