Skip to main content

Kaya Untuk Sedekah, Sedekah Untuk Kaya???

Saat ini sedang happening sekali buku tentang rejeki, saya sendiri belum membaca buku tersebut dan sepertinya menarik, tapi karena jauh dari gramedia, gunung agung, al-amin atau mafaza sampai sekarang belum bisa beli. Dari komentar orang-orang, buku itu sangat membantu sekali dalam memajukan usahanya salah satunya melalui jalan sedekah.

Dalam Islam sendiri sudah ada penjelasan mengenai keajaiban sedekah ini. Banyak ayat-ayat qur'an dan hadis tentang keutamaan sedekah ini, salah satunya seperti firman Allah dalam surah Al-Baqarah:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah:261).

Bila bercermin dari kehidupan umat terdahulu yakni para sahabat Rosululloh SAW, bisa kita dapatkan begitu mudahnya para sabahat dalam bersedekah. Mereka bersedekah seperti tak ada hari esok karena yakin akan janji Allah. Seperti sebuah kisah tentang sahaban Nabi yang terkenal paling dermawan.

"Ketika itu, Ummat Islam di Madinah dikepung dari segala penjuru, baik dari dalam dengan berkhianatnya Yahudi Madinah, juga dari luar dengan kafir Quraisy yang bersekutu dengan kaum-kaum lain yang membenci Islam, membutuhkan banyak pengorbanan baik harta maupun jiwa, maka dianjurkanlah oleh Rasulullah untuk beramal menyumbangkan hartanya. Ketika itu Umar datang membawa hartanya, ketika ditanya oleh Rasulullah tentang apa yang ditinggalkan untuknya dan keluarganya, Umar menjawab bahwa ia meninggalkan separuh hartanya untuknya dan keluarganya. Lalu, tak lama kemudian, datanglah Abu Bakr, dan kita ingat sendiri kisah ini, ketika ditanya tentang apa yang ia tinggalkan untuknya dan keluarganya, maka sebuah kalimat tinggi penuh keimanan terlafazhkan dari lisannya, "Cukup bagiku Allah dan Rasul-Nya." Subhanallah! begitu dahsyatnya beliau, menyumbangkan semuanya demi Islam." (http://ow.ly/4i7sc)

Itu hanya salah satu contoh dari banyak kisah sedekah yang dilakukan para sahabat yang mencontoh langsung dari kehidupan Rasululloh yang sederhana. Semakin kaya hartanya, maka semakin gencar sedekahnya. Sepertinya tak ada istilah takut miskin karena sedekah dalam kamus mereka, subhanallah...

Bisakah contoh para sahabat sekitar Nabi Muhammad SAW tersebut kita aplikasikan dalam hidup kita sekarang ini? jawabannya insyaAllah bisa, karena dari dulu sampai sekarang janji Allah tak pernah berubah. Saya sendiri sudah sering merasakan efek dari sedekah ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa kisah sudah pernah saya tulis di blog, tapi ga tau di blog mana hihihi... :P Bahkan ketika kita menolong orang dengan meminjamkan uang, Allah sering membalasnya secara tunai tak lama kemudian.

Tinggal sekarang kita mempertanyakan niat dari amalan yang kita lakukan, karena setiap amal itu tergantung dari niatnya "Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Kemarin sempet diskusi tentang masalah sedekah ini dengan Aa. Banyak buku menerangkan tentang keutamaan sedekah yang memang sudah tak asing lagi ditelinga kita. Salah satunya adalah sedekah bisa mengundang rejeki. Menurut saya hal ini bisa a little bit tricky...

Bahwa setiap orang ingin hidupnya makmur adalah suatu hal yang wajar. Rasulullah sebelum menjadi nabi adalah seorang pedagang ulung, Siti Khadijah istri Nabi adalah seorang business woman handal yang kekayaannya sungguh luar biasa. Dan seperti sabda Nabi SAW: Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang dibawah (H.R Bukhari Muslim)

Kadang tak cukup dengan kerja banting tulang untuk bisa mendapat kehidupan yang nyaman. Bersedekah adalah salah satu jalan untuk mengundang rejeki seperti yang sudah dijanjikan oleh Allah SWT. Namun bila ditelaah kembali, apakah kita hanya sekedar ingin rejeki atau ingin lebih dari itu?

Bila seseorang niat bersedekah karena ingin tambah kaya maka hanya itulah yang didapatkan. Tapi bila niat kembali di luruskan dengan bersedekah semata-mata demi mencari ridha Allah, maka balasan Allah yang berupa rejeki berlipat-lipat adalah merupakan efek dari aksi yang di lakukan selain insyaAllah mendapat ridha Allah SWT. Karena seperti dalam hadist diatas bahwa setiap amal tergantung niatnya.

Jadi mari kita urutkan prioritas kehidupan kita dengan baik dan benar. Allah menyukai ummat-Nya yang kuat baik dari segi fisik maupun ekonomi. Jadikan bersedekah sebagai salah satu gaya hidup kita dengan tetap meluruskan niat untuk melakukan semua kebaik demi mencari ridha Allah SWT...

Comments

Popular posts from this blog

Pengeluaran Akhir Ramadhan…

Waktu Aa masi kerja di jakarta, paling seneng pas bulan puasa soalnya tengah bulan turun THR… hehehe… Kalo skarang karena base-nya international dan tak ada peraturan tentang THR, maka yaaa ga dapet THR :D Tapi ada tak ada THR, semangat sedekah harus jalan terusss… Apalagi di momen ramadhan yang berkah ini, insyaAllah Allah akan melipatgandakan berkahnya atas kebaikan yang kita lakukan. Saya udah bikin daftar pengeluaran THR… cara pandang terhadap pengeluaran sangat terasa signifikan terhadap perasaan. Kalo kita cuma liat daftar itu hanya sebagai pengeluaran biaya rasanya gimana gitu, beda dengan bila kita liat daftar tersebut sebagai pemasukan amal melalui sedekah dan berbagi. Ditambah lagi dengan kemuliaan bulan ramadhan menjadikan kita berharap bahwa Allah senantiasa meridhoi perbuatan kita dan dengan demikian menurunkan rahmat-Nya kepada kita… aamiin… Pengeluaran yang senantiasa kita lakukan pada hakikatnya adalah pemasukan bagi diri kita sendiri, itu kalo pengeluaran tersebut d...

Hasil Mudik 2025

Sekarang sudah bulan Agustus 2025, orang-orang masih pada summer break, Saya & Aa juga baru beres mudik ke Bogor kemarin, dan sekarang sedang menikmati panasnya Dhahran 😁. Kegiatan-kegiatan juga sedang libur jadi saya literally jadi pengangguran aja, yang ga banyak acara hihihii... Kemarin pulang dari mudik, kepala berasa pusing. Curiga darah tinggi maka cek tensi, dan benar saja tensi saya 146. Flasback ke beberapa hari sebelum mudik memang makannya ajaib alias banyak makan, plus ga olah raga dan kurang tidur juga. 2 hari sebelum terbang, kita nginep di hotel airport, karena berbarengan 4 orang mau terbang di dua hari berbeda dan tujuan berbeda, jadi daripada bolak-balik anter Bogor-Soetta jadilah kita nginep aja. Check in hari selasa, besok rabu saya melepas Aa balik ke Saudi (ya flight kami beda sehari 😆 dan siangnya anter ponakan yang mau kuliah di Surabaya di terminal 1. Besoknya giliran saya anter teteh saya yang mau balik ke US flight pagi, dan terakhir saya dilepas teteh ...

Cerita Dhahran?

Awal Oktober 2022 lalu saya dan Aa pindah rumah ke Dhahran, apakah blog ini harus ganti nama jadi ceritadhahran? hahahha…. Ga usah lah ya secara Khobar – Dhahran juga deket. Padahal di postingan terakhir juga saya postingnya dari Rakah yang bagian rumah saya notabene udah masuk area Dammam, jadi mari kita biarkan saja blog ini bernama ceritakhobar  Tak terasa juga Oktober mendatang udah mau setahun kami menempati rumah di Dhahran ini. Flashback ke tahun lalu yang merupakan salah satu tahun yang cukup hectic, tapi masih kalah hectic sih kalo dibandingin sama proses saya dan Aa balik lagi ke Saudi di musim pandemi hahahaha…. Setelah dari tahun 2010 sampai 2022 kami tinggal di apartemen sampe merasakan 6 apartemen, di 2 lokasi berbeda, alhamdulillah tahun kemarin kita dapet kesempatan tinggal di rumah “normal” dan ada garasi pula, secara di Bogor aja kita ga punya garasi hahaha…. Yang ada halaman depan dan belakangnya juga mashaAllah. Teman-teman yang lain tak sedikit yang berkebun sa...