Pencerahan bisa di dapat dari mana dan siapa saja, seperti hari ini saya dapet pencerahan ketika ngobrol dengan seorang teman. Bukan model obrolan yang penuh dengan petuah, nasihat, tausiyah, ga sama sekali... tapi dari situ saya bisa dapet pencerahan alhamdulillah :)
Kadang dengan hanya melihat suatu peristiwa tanpa kita terlibat didalamnya bisa juga memberi "sesuatu" untuk jiwa kita. Semuanya saya rasa tetap kembali kepada ada tidaknya hidayah dari Allah SWT. Terkadang kita merasakan sesuatu yang membuat otak kita berpikir, jiwa kita bergetar atau apapun yang menyebabkan sesuatu yang positif terhadap diri kita dan disaat itu kita ga sadar bahwa Allah sedang memberikan hidayah-Nya.
Hidayah memang mahal... hidayah adalah hak prerogatif Allah, tapi hidayah juga bisa dipinta kepada sang maha pemberi hidayah Allah azza wa jalla. Keimanan pun suatu hal yang buat saya tak terkira harganya, tak bisa dihitung dengan riyal ataupun rupiah... suatu hal yang patut disyukuri dan di maintain keberadaannya setiap saat.
Salah satu keinginan saya (bisa dibilang obsesi juga sih hehe...) adalah untuk bisa tinggal di suatu tempat yang bisa menjaga keimanan saya, yang bisa membuat mata saya dan suami saya tetep bersih dari pandangan tak senonoh, tempat dimana saya tak perlu khawatir dengan keimanan saya, tempat dimana saya tak perlu khawatir dengan apa yang saya makan karena kehalalannya sudah dijamin. Keinginan-keinginan itu tak lain dan tak bukan dalam rangka bisa mempermudah saya memaintain apa yang sudah Allah kasih, dan kalo bisa lebih terus meningkatkannya.
Sementara ada pula teman di belahan bumi lain yang memilih "pasrah" dengan keimanannya. Mereka bukan anak kecil, mereka tau apa yang mereka lakukan, suatu proses dalam diri dan lingkungan sekitar membuatnya "gagal" memaintain iman... tapi tak gagal dalam pandangan mereka tentunya. Hidup adalah pilihan... bila kita siap memilih, makan kita pun harus siap dengan segala konsekuensinya.
Siapapun bisa menjadi orang yang pasrah atas keimanannya... menjadi futur... bila kita mendiamkan jiwa yang sedang futur, maka lambat laun hal tersebut akan menggerogoti kemimanan kita. Siapapun bisa terkena futur, tak ada manusia yang kebal... Tapi setiap orang berbeda dalam menangani penurunan iman tersebut. Ada yang membiarkannya dan smakin terpuruk hingga tiba pada satu titik tak percaya, ada pula yang mencoba bangkit melawan diri sendiri dari kefuturannya itu....
Terima kasih teman sudah "mengingatkan" saya untuk selalu siap siaga memaintain keimanan saya... bahwa Allah maha pembolak-balik hati manusia... yang dulunya beriman, skarang bisa jadi preman dan sebaliknya... Tak boleh juga kita membenci seseorang karena merasa diri lebih baik kadar keimanannya, karena kita tak pernah tau apa yang terjadi di masa yang akan datang, boleh jadi situasi terbalik, mereka yang dulu sempat terpuruk bisa bangkit kembali meraih keimanannya yang sempat hilang.... *my prayer for you pal... :D*
Comments