Skip to main content

Hidup, Belanja, Mengamati...

Penasaran juga sama bukunya miss jinjing, sampe-sampe saya beli :p Isinya lumayan sih, banyak cerita-cerita seger yang tentunya diangkat dari kisah-kisah yang terjadi disekitar kehidupan pengarangnya. Sesuai dengan blog si empunya buku, belanja-sampai-mati, maka banyak dari isi buku tersebut menceritakan pengalaman dan kelakuan orang-orang disekitarnya yang begitu hobi berbelanja, dan bukan sembarang belanja, karena yang diburu adalah barang-barang high end yang berkualitas dan so pasti harganya tak pernah terlintas dibenak saya untuk membelinya sedikitpun hehehe....

Tak hanya berkutat sekitar dunia perbelanjaan, tulisannya juga banyak mengetengahkan tentang gaya hidup kaum borju yang kaya raya. Tentang konsekuensi dari kehidupan yang bergelimang harta seperti perselingkuhan, meskipun tak juga dipukul rata kalo orang kaya raya itu kebanyakan selingkuh. Karena kehidupan miss jinjing sendiri sepertinya normal-normal saja, mempunyai suami dengan tiga orang anak laki-laki. Namun cerita sahabat-sahabatnya yang bervariasi sedikit banyak bisa kita diambil hikmahnya :D

Membaca buku tentang kemudahan hidup seseorang dalam segi harta yang sepertinya tak akan habis tujuh turunan tak serta merta menjadikan saya ingin seperti mereka. Hanya saja saya senang mengamati karakter manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung seperti melalui tulisan, cerita dan kisah yang diceritakan orang lain. Dengan demikian, saya bisa lebih memahami berbagai karakter yang dimiliki individu sehingga menjadi tak mudah suudzon terhadap orang lain.

Dalam mengamati orang, seringkali saya melakukannya tanpa pretensi apa-apa dalam artian saya hanya ingin tau cerita dibalik sesuatu tanpa ada keinginan untuk ikut terlibat secara emosional bersama cerita tersebut.

Ketika saya berkumpul bersama ipar-ipar juga teman perempuan, kebetulan di televisi ada berita mengenai salah satu artis Indonesia yang sedang ramai dibicarakan kisah cintanya yang penuh drama, maka dengan serta merta salah seorang dari mereka langsung menanggapi dengan menunjukkan kebenciannya kepada sang selebritis tersebut. Terus saya bilang aja "ih udah biarin aja kali... ko lo yang rempong sih... ??" hihihi.... Karena kita ga perlu repot memikirkan pilihan hidup orang lain, apalagi orang yang tak ada hubungannya dengan saya... Jadi mau ada berita ini itu tentang artis ataupun selebritis buat saya ga ada bedanya :p

Buat saya yang "pekerjaan" nya mengurus keuangan keluarga, pembahasan mengenai dunia belanja dan mengeluarkan uang sangat menarik perhatian. Dengan mengamati kebiasaan orang lain dalam berbelanja, saya kemudian membandingkannya dengan kebiasaan saya sendiri. Bila saya merasa terheran-heran dengan kalapnya orang-orang menghabiskan setiap rupiah yang mereka miliki (dan sepertinya ga habis-habis hihihi....) maka itu berarti saya masih berada dalam titik aman :D

Saya mempunyai standar bagaimana membelanjakan rejeki yang udah Allah kasih. Pendidikan orang tua dari kecil tentang berbagi terhadap sesama, mencari berbagai pengetahuan tentang bagaimana mengatur keuangan secara Islami, dan berbagai pengalaman hidup yang berhubungan dengan uang, telah mengajarkan saya untuk lebih bijaksana dalam mengelola keuangan, dan semua itu sangat berguna dalam membekali saya dimasa sekarang ini, terutama setelah memiliki keluarga sendiri.

Sampai sekarang (semoga terus istiqomah) buat saya tak masuk akal membeli tas atau sepatu seharga mobil, meskipun mampu membelinya. Terserah orang mau bilang klo hal tersebut sama seperti investasi, karena bila dijual lagi harganya tetap tinggi... atau dengan memakainya maka akan menambah percaya diri berlipat ganda, punya prestise tersendiri or whatever... tetap saja buat saya pribadi ga akan tega membelinya hehehe....

Namun kembali lagi, bahwa setiap manusia punya pilihan masing-masing dalam hidupnya. Bila seseorang memutuskan untuk menjadi shopaholic sejati tentunya itu bukan urusan saya hehe... Yang pasti tentunya manusiapun harus konsekuen dengan pilihan hidupnya tersebut, dan siap mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT....

Wallohua'lam bisshawab....

Comments

Popular posts from this blog

Pengeluaran Akhir Ramadhan…

Waktu Aa masi kerja di jakarta, paling seneng pas bulan puasa soalnya tengah bulan turun THR… hehehe… Kalo skarang karena base-nya international dan tak ada peraturan tentang THR, maka yaaa ga dapet THR :D Tapi ada tak ada THR, semangat sedekah harus jalan terusss… Apalagi di momen ramadhan yang berkah ini, insyaAllah Allah akan melipatgandakan berkahnya atas kebaikan yang kita lakukan. Saya udah bikin daftar pengeluaran THR… cara pandang terhadap pengeluaran sangat terasa signifikan terhadap perasaan. Kalo kita cuma liat daftar itu hanya sebagai pengeluaran biaya rasanya gimana gitu, beda dengan bila kita liat daftar tersebut sebagai pemasukan amal melalui sedekah dan berbagi. Ditambah lagi dengan kemuliaan bulan ramadhan menjadikan kita berharap bahwa Allah senantiasa meridhoi perbuatan kita dan dengan demikian menurunkan rahmat-Nya kepada kita… aamiin… Pengeluaran yang senantiasa kita lakukan pada hakikatnya adalah pemasukan bagi diri kita sendiri, itu kalo pengeluaran tersebut d...

Hasil Mudik 2025

Sekarang sudah bulan Agustus 2025, orang-orang masih pada summer break, Saya & Aa juga baru beres mudik ke Bogor kemarin, dan sekarang sedang menikmati panasnya Dhahran 😁. Kegiatan-kegiatan juga sedang libur jadi saya literally jadi pengangguran aja, yang ga banyak acara hihihii... Kemarin pulang dari mudik, kepala berasa pusing. Curiga darah tinggi maka cek tensi, dan benar saja tensi saya 146. Flasback ke beberapa hari sebelum mudik memang makannya ajaib alias banyak makan, plus ga olah raga dan kurang tidur juga. 2 hari sebelum terbang, kita nginep di hotel airport, karena berbarengan 4 orang mau terbang di dua hari berbeda dan tujuan berbeda, jadi daripada bolak-balik anter Bogor-Soetta jadilah kita nginep aja. Check in hari selasa, besok rabu saya melepas Aa balik ke Saudi (ya flight kami beda sehari 😆 dan siangnya anter ponakan yang mau kuliah di Surabaya di terminal 1. Besoknya giliran saya anter teteh saya yang mau balik ke US flight pagi, dan terakhir saya dilepas teteh ...

Cerita Dhahran?

Awal Oktober 2022 lalu saya dan Aa pindah rumah ke Dhahran, apakah blog ini harus ganti nama jadi ceritadhahran? hahahha…. Ga usah lah ya secara Khobar – Dhahran juga deket. Padahal di postingan terakhir juga saya postingnya dari Rakah yang bagian rumah saya notabene udah masuk area Dammam, jadi mari kita biarkan saja blog ini bernama ceritakhobar  Tak terasa juga Oktober mendatang udah mau setahun kami menempati rumah di Dhahran ini. Flashback ke tahun lalu yang merupakan salah satu tahun yang cukup hectic, tapi masih kalah hectic sih kalo dibandingin sama proses saya dan Aa balik lagi ke Saudi di musim pandemi hahahaha…. Setelah dari tahun 2010 sampai 2022 kami tinggal di apartemen sampe merasakan 6 apartemen, di 2 lokasi berbeda, alhamdulillah tahun kemarin kita dapet kesempatan tinggal di rumah “normal” dan ada garasi pula, secara di Bogor aja kita ga punya garasi hahaha…. Yang ada halaman depan dan belakangnya juga mashaAllah. Teman-teman yang lain tak sedikit yang berkebun sa...