Skip to main content

Rejeki, Uang, Nikmat....

Tak selamanya kita hidup berhadapan dengan orang-orang baik. Adakalanya kita pun harus berinteraksi dengan pribadi yang penuh rekayasa agar bisa mendapat keuntungan yang besar. Yang saya pelajari dari kehidupan salah satu kerabat saya adalah, dalam berbisnis sangat sulit mencari orang yang dapat dipercaya bila berhadapan dengan uang.... hmmm benarkah demikian?

Padahal Rosululloh SAW memberi contoh jauh dari sebelum beliau diangkat sebagai utusan Allah, bahwa berbisnis itu tak akan menjadi rugi bila dijalankan dengan penuh amanah, sampai-sampai beliau diberi gelar Al-Amin yakni orang yang pandai memegang amanah.

Dijaman sekarang, mempunyai banyak ilmu agama tak menjamin seseorang dalam pengamalannya. Banyak orang yang bersabar ketika menghadapi kesulitan, tak sedikit pula manusia yang tak sabar ketika dihadapkan pada bergepok-gepok uang segar didepan matanya.

Dengan berbagai cara dan upaya, seringkali seseorang membuat alasan untuk memvalidasi tindakannya "menilep" uang yang bukan miliknya. Tapi Allah Maha Mengetahui.... Rejeki yang kita pikir seharusnya milik kita tapi tak sampai ketangan kita, berarti itu belum menjadi rejeki kita.... Bila orang lain memakan dan mempergunakan sesuatu yang bukan hak-nya, yah itu masalah dia, toh semua itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah yang Maha Adil.

Kakak saya pernah cerita, suaminya pernah ditugaskan memegang uang sekoper untuk kebutuhan akomodasi dan operasional kantor, karena sedang bertugas keluar kota dengan beberapa orang temannya. Kalaulah dia mau mengambil satu sampai lima lembar seratus ribuan, sepertinya tak akan ada yang tahu.... Sampai-sampai dia takut sendiri bila sampe tergoda untuk melakukan hal tersebut, untungnya Alhamdulillah tak sampe kegoda.... hiiii naudzubillah min dzaalik....

InsyaAllah yang namanya rejeki mah udah diatur oleh Allah SWT, tak akan tertukar, tak akan salah. Tak usah kita menangisi sesuatu yang kita pikir rejeki kita, tapi ternyata jatuhnya ke tangan orang lain, karena berarti itu memang bukan milik kita.... Kata-kata tersebut biasanya saya ungkapkan kepada seseorang yang gelisah karena telah merasa didzolimi oleh orang lain dalam masalah uang.... Yah smoga saja saya ga cuma bisa ngomong dan nulis doang, tapi juga bisa menghayati dan meresapinya.... :p

Rejeki tak melulu dalam bentuk materi, kebahagiaan yang kita rasakan ketika sedang tak punya uang itu juga rejeki... :D Kesehatan, udara yang kita hidup non-stop 24 jam tanpa henti, kenikmatan ketika menyantap nasi + ikan asin + sambel, itu juga merupakan rejeki yang tak ternilai harganya.... tinggal bagaimana kita bersyukur, selalu berpikir positif, mencari the silver lining, the bright side dari segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini...

Duh klo nulis mah enak banget yak, gampang.... smoga saja pelaksanaannya bisa segampang penulisannya.... hihihi... aamiin... :)

Comments

Popular posts from this blog

Pengeluaran Akhir Ramadhan…

Waktu Aa masi kerja di jakarta, paling seneng pas bulan puasa soalnya tengah bulan turun THR… hehehe… Kalo skarang karena base-nya international dan tak ada peraturan tentang THR, maka yaaa ga dapet THR :D Tapi ada tak ada THR, semangat sedekah harus jalan terusss… Apalagi di momen ramadhan yang berkah ini, insyaAllah Allah akan melipatgandakan berkahnya atas kebaikan yang kita lakukan. Saya udah bikin daftar pengeluaran THR… cara pandang terhadap pengeluaran sangat terasa signifikan terhadap perasaan. Kalo kita cuma liat daftar itu hanya sebagai pengeluaran biaya rasanya gimana gitu, beda dengan bila kita liat daftar tersebut sebagai pemasukan amal melalui sedekah dan berbagi. Ditambah lagi dengan kemuliaan bulan ramadhan menjadikan kita berharap bahwa Allah senantiasa meridhoi perbuatan kita dan dengan demikian menurunkan rahmat-Nya kepada kita… aamiin… Pengeluaran yang senantiasa kita lakukan pada hakikatnya adalah pemasukan bagi diri kita sendiri, itu kalo pengeluaran tersebut d...

Hasil Mudik 2025

Sekarang sudah bulan Agustus 2025, orang-orang masih pada summer break, Saya & Aa juga baru beres mudik ke Bogor kemarin, dan sekarang sedang menikmati panasnya Dhahran 😁. Kegiatan-kegiatan juga sedang libur jadi saya literally jadi pengangguran aja, yang ga banyak acara hihihii... Kemarin pulang dari mudik, kepala berasa pusing. Curiga darah tinggi maka cek tensi, dan benar saja tensi saya 146. Flasback ke beberapa hari sebelum mudik memang makannya ajaib alias banyak makan, plus ga olah raga dan kurang tidur juga. 2 hari sebelum terbang, kita nginep di hotel airport, karena berbarengan 4 orang mau terbang di dua hari berbeda dan tujuan berbeda, jadi daripada bolak-balik anter Bogor-Soetta jadilah kita nginep aja. Check in hari selasa, besok rabu saya melepas Aa balik ke Saudi (ya flight kami beda sehari 😆 dan siangnya anter ponakan yang mau kuliah di Surabaya di terminal 1. Besoknya giliran saya anter teteh saya yang mau balik ke US flight pagi, dan terakhir saya dilepas teteh ...

Cerita Dhahran?

Awal Oktober 2022 lalu saya dan Aa pindah rumah ke Dhahran, apakah blog ini harus ganti nama jadi ceritadhahran? hahahha…. Ga usah lah ya secara Khobar – Dhahran juga deket. Padahal di postingan terakhir juga saya postingnya dari Rakah yang bagian rumah saya notabene udah masuk area Dammam, jadi mari kita biarkan saja blog ini bernama ceritakhobar  Tak terasa juga Oktober mendatang udah mau setahun kami menempati rumah di Dhahran ini. Flashback ke tahun lalu yang merupakan salah satu tahun yang cukup hectic, tapi masih kalah hectic sih kalo dibandingin sama proses saya dan Aa balik lagi ke Saudi di musim pandemi hahahaha…. Setelah dari tahun 2010 sampai 2022 kami tinggal di apartemen sampe merasakan 6 apartemen, di 2 lokasi berbeda, alhamdulillah tahun kemarin kita dapet kesempatan tinggal di rumah “normal” dan ada garasi pula, secara di Bogor aja kita ga punya garasi hahaha…. Yang ada halaman depan dan belakangnya juga mashaAllah. Teman-teman yang lain tak sedikit yang berkebun sa...