Dalam hidup berumah tangga, kepribadian pasangan saling mempengaruhi satu sama lain.... yang paling kuat akan mendominasi kepribadian yang lemah. Allah pun sudah menyiratkan dalam Al-Qur'an bahwa : ”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (QS An-Nur:26)
Saya bukan ahli tafsir, tapi dari ayat diatas secara harfiah pun sudah bisa dibaca bahwa, setiap orang akan mendapatkan what they deserve... maka dari itu, kesalehan diri sendiri dan pasangan adalah hal yang harus selalu terus dijaga, sehingga kita dan pasangan kita akan selalu deserve each other...
Kerap kali seseorang mengucapkan janji untuk berubah menjadi muslim yang lebih setelah menikah, berjanji untuk belajar lebih banyak tentang agama, dan janji-janji lain sebagai penghibur bagi pihak lain. Tapi kenyataannya tak selalu sesuai dengan janji yang diucapkan, karena setelah menikah yang akan doniman adalah sifat dan kepribadian dari masing-masing pasangan yang sudah ada dari sebelum menikah.
Ada orang yang shalih sebelum menikah, tapi karena memilih pasangan yang tidak tepat maka dia terpengaruh dan perlahan tapi pasti mulai permisif dan membiasakan diri terhadap hal-hal yang dulu dijaganya, dan mulai meninggalkan hal-hal yang dulu selalu dibiasakannya.
Kisah tentang Nabi Ibrahim yang menyuruh Nabi Ismail untuk mengganti pintu rumahnya juga patut untuk dicermati. Suatu ketika Nabi Ibrahim bertandang ke rumah anaknya dengan menyamar dan bertemu menentunya, kemudian Nabi Ibrahim bertanya mengenai kehidupan rumah tangga anak dan menantunya tersebut. Istri Nabi Ismail mengeluhkan kehidupan mereka yang pas-pasan, makan saja sulit dan memprihatinkan. Tak lama setelah itu Nabi Ibrahim memerintahkan anaknya untuk mengganti pintu depan rumahnya, yang tak lain adalah kiasan untuk mengganti istrinya.
Ada pula kisah asyiah yang shalehah yang bersuamikan firaun yang membangkang terhadap Allah... sampai akhirnya suaminya sendiri yang memerintahkan agar asyiah disiksa karena tidak mengakui firaun sebagai tuhannya. Allah yang memisahkan asyiah dengan suaminya dengan balasan dibangunkan istana di surga kelak.
Seseorang juga bisa berubah menjadi muslim yang lebih baik. Kadang suka merasa tertinggal kalau melihat perkembangan suami... dimana dia selalu berusaha untuk melakukan amalan harian yang lebih dari saya. Aa sendiri tak pernah menuntut saya untuk begini dan begitu, dia hanya simply berbuat untuk bisa menjadi lebih baik, dan pada akhirnya saya jadi takut sendiri kalau saya tidak keep up nanti jangan-jangan kita tak bisa bersama-sama di akherat kelak... atau minimal saya jadi tidak deserve him di dunia ini... Naudzubillah...
Maka akan sangat ideal bila pasangan suami istri berkembang bersama-sama, tak hanya dari segi fisik yang berkembang hihihi... tapi terlebih dari sisi ruhiyahnya. Sehingga dalam rumah tangga akan lebih dominan sifat dan sikap yang dilandasi oleh ajaran agama atau syariat Islam. Sehingga bila dihadapkan pada suatu masalah, maka pasangan suami istri tersebut akan mengembalikan akar masalah dan penyelesaiannya kepada apa yang dicontohkan Rosululloh SAW.
Tulisan ini bukan berarti saya lebih baik dari siapapun yang membacanya, tapi hanya sekedar pengingat kepada diri sendiri untuk selalu berusaha menjadi sosok hamba Allah yang lebih baik, dan akan lebih ideal bila kita tak hanya berkembang menjadi lebih baik sendirian tapi juga bersama pasangan kita...
Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang istiqomah, dan selalu berusaha menjadi muslim dan muslimah yang lebih baik setiap saat... sehingga kita dan pasangan kita akan selalu deserve each other, baik di dunia maupun di akherat kelak... aamiin...
Comments