Bismillah....
Orang tua saya tidak mempunyai pendidikan formal yang tinggi, umi setau saya hanya tamat SD, bapak sepertinya tidak tamat SD hehehe... tapi setelah itu mereka tetap menuntut ilmu di pesantren. Meskipun demikian orang tua saya terutama bapak mempunyai pemikiran yang sesuai dengan zaman dan juga open minded namun tetap dalam koridor ilmu keagamaan yang sampai sekarang rasanya tak pernah bisa saya tandingi.
Tidak tamat SD membuat bapak mempunyai "dendam" pribadi yang disalurkan lewat anak-anaknya, dendam itu adalah anak-anaknya harus merasakan bangku kuliah... Bapak bukan orang kaya, maka dulu umi & bapak tak segan-segan menjual tanahnya untuk biaya sekolah anak-anaknya, karena kebetulan bapaknya umi (kakek saya) termasuk orang kaya zaman dahulu yang tanahnya membentang dimana-mana hehehe, lalu bapak membeli murah dari kakek dan itu menjadi modalnya menyekolahkan anak-anaknya.
Selain tanah, umi juga kadang harus menjual ayam, ikan hasil tangkapannya, atau hasil bumi lain untuk sekedar ongkos anaknya menuntut ilmu. Rasanya tak pernah kudengar mereka menyesal ataupun mengeluh telah menjual hartanya untuk ditukar dengan ilmu bagi anak-anaknya.
Anak yang sering mendapat modal ini adalah anak-anak generasi awal alias kakak-kakak saya, sehingga setelah kakak saya bekerja maka kakak sayapun bisa membantu adik-adiknya bersekolah. Tekad bapak menyekolahkan anak-anaknya minimal sampai perguruan tinggi juga menular dalam diri kakak saya, sehingga teteh & ceuceu tak segan-segan menolong adik-adiknya dalam hal biaya sekolah.
Namun bukan berarti saya tidak pernah merasakannya, ketika saya mulai kuliah di ilmu komputer IPB, komputer menjadi kebutuhan saya. Maka waktu itu umi menggadaikan tanah warisannya dalam bentuk komputer pentium 1 yang saat itu sekitar 5 juta (tahun 1995) dan itu menjadi modal saya dalam menyelesaikan kuliah (Jazakumulloh umi & bapak).
Bila kami anak-anaknya akan menempuh ujian di sekolah maka orang tua kami membebaskan kami dari tugas-tugas rumah. Katanya "parabotan moal gogoakan lamun di imah pabalatak" yang artinya kira-kira "perabotan ga akan teriak-teriak ini kalo di rumah berantakan" huehehehe... Dan satu hal yang dulu selalu ditekankan bapak, bahwa bapak hanya mampu membiayai anak-anaknya sekolah di sekolah negeri, yang pada waktu itu mutunya bagus tapi bayarnya tak terlalu mahal. Jadi yang terbayang di kepala saya adalah "wah kalo ga bisa masuk negeri ntar gw kaga disekolahin...!!!" dan itu mendorong anak-anaknya untuk berusaha semaksimal mungkin biar bisa masuk negeri .
Dalam hal pendidikan agama, bapak & umi adalah orang yang pertama-tama mengajarkan segala sesuatunya... saya mendapatkan ilmu tentang fiqih, nahwu, sorof, tafsir, hadist, membaca kitab kuning itu semua dari orang tua khususnya bapak. Sehingga setelah dewasa terasa benar manfaatnya... yah meskipun kadang masi aja ada bandelnya .
Sekarang setelah orang tua saya berhasil mengantarkan anak-anaknya mendapat pendidikan yang layak, apakah modal yang dikeluarkan setara dengan hasil yang didapat? umi selalu berkata "semua sudah terbayar plus keuntungannya". Umi pernah berkata, kalau dulu umi menggadaikan tanah warisannya untuk komputer saya, maka saya sudah "mengembalikan modal tersebut bersama keuntungannya" jauh lebih besar dari harga penggadaian tanah pada waktu itu... Alhamdulillah....
Dengan ilmu, orang tua memberikan bekal bagi anak-anaknya untuk mendapatkan hidup yang layak, baik dari segi materi terutama dari segi ruhiyah. Dengan ilmu pula seseorang bisa mendapatkan pendamping hidup yang juga berilmu, itu yang dirasakan oleh anak-anak umi & bapak... sehingga generasi yang dilahirkan pun adalah generasi yang cinta akan ilmu insyaAllah.
Wallohu a'lam bisshawab....
Comments
ngiring comment yaah...
Umi dan Bapak teh Lida sudah seperti umi dan bapak saya sendiri dari dulu sampai sekarang. Pelajaran Agama di Majlis Ta'lim walaupun hanya semasa SD sampai SMP, telah menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam hidup saya.
:).. Kulah (kolam ikan) bapak juga selalu bermanfaat buat semua orang kan teh fahmi inget setiap nga-bedahkeun (Panen kali yah..:D) orang mulai dari orda sampe gang masjid berbondong-bondong datang buat ikut mencari ikan-ikan yang saya yakin sengaja disisakeun. mmh kebon bapak juga..
:).. Bapak sama Umi memang orang tua semua orang teh...
Jujur teh fahmi baca postingan ini sambil cirambay (Jangan di indonesia-in ya teeh)....
Salam Baktos kanggo sadaya kulawargi di bogor teh..
Wassalaam
biasanya 'kecerewetan' seseorang akan kebaikan akan terasa waktu kita sudah menjalani hidup secara mandiri, komo fahmi mah jauh ti kampung halaman hehehe... fahmi pan terang mun bapak mah terkenal 'galak' tapi insyaAllah untuk kebaikan :)
Alhamdulillah atuh klo ada orang slain anaknya umi&bapak yg berpikir seperti fahmi... mudahan itu menjadi ladang amal yg bisa dipetik oleh mrk berdua diakherat kelak aamiin :)
Hatur nuhun nya atas komennya, meuikeun sambil cirambay hehehe...
Wassalamualaikum